Perintis Ilmu

PERINTIS ILMU

    Sesudah bertahun-tahun bekerja, 
 seorang perintis ilmu menemukan seni membuat api. 
 Ia membawa alat-alatnya menuju ke daerah utara yang penuh salju 
 dan mengajar kepada suku disana seni membuat api itu 
 dan keuntungan-keuntungannya.


Orang menjadi begitu senang akan hal baru ini,
hingga mereka tidak berpikir untuk berterimakasih kepada si penemu,
yang pada suatu hari dengan diam-diam pergi. Karena ia itu salah satu orang istimewa
yang memiliki kebesaran,
maka ia tidak punya keinginan diperingati atau dihormati.

Yang dicari melulu kepuasan karena tahu bahwa
ada orang yang diuntungkan oleh penemuannya.

Suku kedua yang dikunjunginya,
sama besar keinginannya untuk belajar seperti suku yang pertama.
Tetapi imam-imam setempat karena iri hati terhadap orang baru yang menguasai umat, telah membunuh dia.

Untuk menyingkirkan semua dugaan tentang kejahatan itu,
mereka membuat gambar Sang Penemu Agung,
yang dipasang pada altar besar di dalam kuil,
dan ditetapkan suatu upacara,
hingga namanya akan dihormati dan kenangannya tetap hidup.

Perhatian besar dicurahkan,
agar tidak satu peraturan upacara pun akan diubah atau dilewatkan.

Alat untuk membuat api disimpan dalam peti dan dikatakan
memberi kesembuhan kepada semua
yang menyentuhnya dengan penuh kepercayaan. Imam Agung sendiri mengambil tugas
untuk menyusun sebuah buku tentang riwayat Hidup Sang Penemu.

Dalam buku suci ini kelembutannya yang penuh cinta
disajikan sebagai teladan untuk ditiru oleh semua,
perbuatan-perbuatan agungnya dipuji,
kodratnya yang melebihi manusia dijadikan syahadat iman.

Para imam menjaga,
agar Buku suci diwariskan kepada generasi mendatang,
sedang dengan kuasa ditafsirkan arti kata-kata
dan makna hidup dan perbuatannya yang suci.

Dan tanpa ampun mereka menghukum mati
atau mengucilkan orang yang menyimpang dari ajaran mereka.
Terpancang pada tugas-tugas agama tadi,
rakyat pun lupa sama sekali akan seni membuat api.

(DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ, Penerbit Kanisius, Cetakan 12, 1996)

Anthony De Mello
dengan caranya yang halus menyindir cara kehidupan manusia

Dalam kisah suku yang pertama
mereka menerima dengan baik ilmu yang diajarkan oleh Sang Guru
dan karena keasikannya akan ilmu pengetahuan yang baru tersebut
sehingga mereka sendiri lupa untuk menghargai
atau sekedar mengucapkan terima kasih kepada Sang Guru
yang mengajarkan ilmu pengetahuan baru tersebut.

Suku ini melakukan action
dengan kesungguhan dan ketulusan hati
atas apa yang telah dipelajarinya.

Sangat berbeda dengan dengan suku kedua
yang karena iri atas Sang Guru
menganggap ajarannya menjadi batu sandungan bagi mereka
sehingga berusaha membunuhnya
demi menjaga kehormatan atas dirinya sendirinya.

Namun seperti suku kedua
kita juga sering melakukan kesalahan yang sama
dan untuk menutupi kesalahan itu
kita berpura-ura membuat kisah
tentang kebaikan dari Sang Guru
yang telah kita bunuh
dan membuat aturan baru yang mengikat bagi semua orang.

Tameng yang kita buat untuk menutupi kesalahan kita
tanpa kita sadari,
kita telah mengutamakan aturan
daripada sebuah tindakan.

Yang kita harapkan adalah ketaatan dari orang lain
bukan karya-karya nyata yang dilakukannya.

Tanpa kita sadari sesunggunya
kita telah membunuh kreativitasnya.

Kita lupa bahwa sebuah Action lebih berharga

dari sekedar pengetahuan akan aturan tertulis.

Bagaimana menurut anda ?
Mohon ulasannya mengenai renungan Anthony De Mello di atas

Salam Damai.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s